MEROKOK BAGI REMAJA
PEMBAHASAN
Masa remaja
merupakan masa penghubung atau masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa. Pada masa remaja
terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan
dengan perkembangan psikologis, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan
dengan orangtua dan cita-cita serta lingkungan mereka, dimana pembentukan
cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan. Transisi
perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak
masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai.
Pada masa inilah setiap orang sering mengalami yang
namanya krisis identitas diri atau tidak mengetahui jati dirinya sendiri, maka
sering kali apabila pada masa ini gagal dalam mencarinya bisa berakibat fatal
pada masa berikutnya ataupun pada saat masa ini sedang dijalankan. Remaja
sering ingin mengetahui dan mencoba hal-hal yang baru tanpa menyaring terlebih
dulu mana yang baik dan buruk yang penting tau, dan remaja biasa cenderung
belum bisa memutuskan atau masih sulit dalam mengambil keputusan.
Pergaulan remaja pada zaman
sekarang ini sudah sampai pada taraf yang dapat mengkhawatirkan. Semua media
massa baik elektronik maupun cetak dengan leluasa menampilkan hal-hal yang
dapat mengakibatkan kerusakan akhlak generasi muda pada masa sekarang ini. Melakukan
intervensi pendidikan terhadap remaja dizaman modern sekarang ini jauh lebih
sukar dibandingkan dengan zaman dahulu, ini disebabkan situasi kehidupan dewasa
ini sudah semakin kompleks. Pengaruh kompelksitas kehidupan dewasa ini sudah
tampak pada berbagai fenomena yang perlu memperolah perhatian pendidikan.
Pelajar sekolah menengah pertama merupakan satu kumpulan
remaja yang berada ditahap umur antara 13 hingga19 tahun. Pada tahap umur ini
mereka biasanya akan melakukan apa saja dengan tujuan untuk mencoba dan
mengikuti sesuatu yang baru. Contohnya merokok. Biasanya, golongan ini sudah
memulai belajar merokok ketika dibangku sekolah.
Di
masa modern ini, merokok merupakan suatu pemandangan yang sangat tidak asing.
Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, namun
dilain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi si perokok sendiri maupun
orang – orang disekitarnya.
Berbagai
kandungan zat yang terdapat di dalam rokok memberikan dampak negatif bagi tubuh
penghisapnya. Beberapa motivasi yang melatarbelakangi seseorang merokok adalah
untuk mendapat pengakuan (anticipatory
beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs), dan menganggap perbuatannya tersebut tidak
melanggar norma (permissive
beliefs/fasilitative)
Merokok merupakan salah satu masalah yang sulit dipecahkan. Apalagi sudah
menjadi masalah nasional, dan bahkan internasional. Hal ini menjadi sulit,
karena berkaitan dengan banyak faktor yang saling memicu, sehingga seolah- olah
sudah menjadi lingkaran setan. Di tinjau dari segi kesehatan, merokok harus
dihentikan karena menyebabkan kanker dan penyumbatan pembuluh darah yang
mengakibatkan kematian, oleh karena itu merokok harus dihentikan sebagai usaha
pencegahan sedini mungkin. Terlebih diketahui bahwa sebagian besar perokok
adalah remaja sehingga perlu adanya pencegahan dini yang dimulai dari pihak
sekolah.
Para perokok merasakan nikmatnya merokok begitu nyata, sampai dirasa memberikan rasa menyenangkan dan menyegarkan sehingga setiap harinya harus menyisihkan uang untuk merokok. Kelompok lain, khususnya remaja pria, mereka menganggap bahwa merokok adalah merupakan ciri kejantanan yang membanggakan, sehingga mereka yang tidak merokok malah justru diejek. Padahal mereka sadar bahwa merokok dapat membahayakan kesehatan bahkan menimbulkan banyak penyakit serius.
Para perokok merasakan nikmatnya merokok begitu nyata, sampai dirasa memberikan rasa menyenangkan dan menyegarkan sehingga setiap harinya harus menyisihkan uang untuk merokok. Kelompok lain, khususnya remaja pria, mereka menganggap bahwa merokok adalah merupakan ciri kejantanan yang membanggakan, sehingga mereka yang tidak merokok malah justru diejek. Padahal mereka sadar bahwa merokok dapat membahayakan kesehatan bahkan menimbulkan banyak penyakit serius.
Hal
ini sejalan dengan kegiatan merokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya
dilakukan didepan orang lain, terutama dilakukan di depan kelompoknya karena
mereka sangat tertarik kepada kelompok sebayanya atau dengan kata lain terikat
dengan kelompoknya.
Tidak dapat dinafikan bahwa merokok menuruti pendapat
penghisabnya memberi faedah kepada
mereka dimana ia akan memberikan ketenangan kepada perokok dalam tempo
masa tertentu. Selain itu ada yang memiliki anggapan bahwa merokok dapat
menghilangkan rasa mengantuk dan penat baik saat melakukan kerja dan
sebagainya. Namun begitu, terdapat kesan buruk yang diperoleh perokok seperti
tertimpa berbagai penyakit berbahaya bagi kesehatan serta dapat dikatakan
membuang uang dengan sia-sia.
Sebenarnya pelajar yang merokok bukannya tidak mengetahui
kesan buruk yang akan dialami oleh mereka tetapi disebabkan ketagihan serta
hanya melihat kepada kebaikan sesaatnya saja maka mereka tidak memikirkan
langsung kesan buruk yang akan membahayakan diri mereka sendiri serta orang
lain. Jika dilihat dalam konteks pelajar disekolah, perbuatan merokok ini
banyak terkait erat dengan sikap disiplin, tingkah laku, kesehatan dan lain
sebagainya. Memandang para pelajar atau remaja sekolah merupakan generasi
penerus bangsa yang akan menggantikan kepemimpinan bangsa serta kemakmuran
negara, maka mereka perlu menghindarkan diri dari perbuatan dan kebiasaan
negatif tersebut.
Mulai
sebelum umur 18 tahuDi Indonesia, walaupun belum ada data pasti tentang merokok
pada remaja, diperkirakan angka kejadiannya tidak jauh berbeda dengan kondisi
di negara lain. Namun yang pasti, merokok telah menjadi semacam “trademark”
bagi seorang remaja laki-laki untuk menunjukkan maskulinitasnya. Remaja yang
tidak merokok dianggap tidak gaul, tidak modern, dan kurang luwes dalam pergaulan.
Yang memprihatinkan, sekarang ini tidak sedikit remaja perempuan yang juga
memiliki kebiasaan merokok. Walaupun jumlahnya kecil dari remaja laki-laki,
namun menilik akibat bagi kesehatannya termasuk keturunannya kelak, kebiasaan
yang negatif ini perlu diwaspadai.
Remaja Rentan Terhadap Perilaku Merokok
Pada umumnya remaja memiiki rasa ingin tahu yang tinggi (high curiosity).
Karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi remaja cenderung ingin
berpetualang menjelajah segala sesuatu dan mencoba segala sesuatu yang belum
pernah dialaminya. Selain itu didorong juga oleh keinginan seperti orang
dewasa, menyebabkan remaja ingin mencoba melakukan apa yang sering dilakukan
oleh orang dewasa. Akibatnya tidak jarang secara sembunyi-sembunyi remaja pria mencoba
merokok karena sering meihat orang dewasa melakukannya. Seolah-olah dalam hati
kecilnya berkata bahwa remaja ingin membuktikan bahwa sebenarnya dirinya mampu
berbuat seperti yang dilakukan orang dewasa. Seringkali remaja melakukan
perbuatan-perbuatan menurut normanya sendiri karena terlalu banyak menyaksikan
ketidakkonsistenan di masyarakat yang dilakukan oleh orang dewasa atau orang
tua antara apa-apa yang sering dikatakan dalam berbagai forum dengan kenyataan
nyata dilapangan. Kata-kata moral didengungkan dimana-mana tetapi kemaksiatan
juga disaksikan dimana-mana oleh remaja.
Merokok menjadi sebuah cara
bagi remaja agar mereka tampak bebas dan dewasa saat mereka menyesuaikan diri
dengan teman-teman sebayanya yang merokok. Istirahat/santai dan kesenangan,
tekanan-tekanan teman sebaya, penampilan diri, sifat ingin tahu, stress,
kebosanan, ingin kelihatan gagah dan sifat suka menentang, merupakan hal-hal
yang dapat mengkontribusi mualinya merokok pada anak remaja. Sedangkan faktor
lain yang mempengaruhi adalah rasa rendah diri, hubungan antar perseorangan
yang jelek, kurang mampu mengatasi stress, putus sekolah, sosial ekonomi yang
rendah, tingkat pendidikan orangtua yang rendah, serta tahun-tahun transisi
antara sekolah dasar dan sekolah menengah (usia 11-16 tahun). Merokok sering
dihubungkan dengan remaja yang memiliki nilai di sekolah yang jelek, aspirasi
yang rendah, penggunaan alkohol serta obat-obatan lainnya, absen sekolah,
kemungkinan putus sekolah, rendah diri, suka melawan, dan pengetahuan tentang
bahaya merokok yang rendah.
- Awal individu mengenal rokok adalah lewat observasi mereka pada perilaku merokok orang tua yang menimbulkan rasa penasaran dan terdorong untuk mencoba merokok. Setelah itu penayangan iklan rokok pada televisi terutama yang menampilkan model-model anak muda, semakin membuat individu tertarik untuk mencoba rokok dan meniru model dalam iklan rokok tersebut.
- Kemudian masalah-masalah yang dialami oleh individu seperti masalah keluarga, masalah sekolah, dan masalah-masalah lainnya semakin membuat individu semakin terdorong untuk mulai merokok.
- Penyebab lain munculnya kebiasaan merokok remaja disebabkan karena mereka ingin mencoba rokok itu karena mereka melihat orang yang merokok kelihatan nikmat dan mereka merasa penasaran, selain itu juga mereka ingin mencari pergaulan dan terpengaruh oleh temannya sehingga ia merokok.Tujuan utama bagi remaja untuk merokok yakni untuk mencari perhatian dari orang banyak.
- Dengan merokok terlihat macho/sexy. Merokok dapat menimbulkan kulit keriput dan gigi kuning. Merokok juga berkontribusi pada osteoporosis atau pengeroposan tulang, merokok dapat menyebabkan impotensi.
- Berhenti merokok bisa membuat gemuk.Bertambanya berat badan banyak dialami orang yang mencoba berhenti merokok. Hal ini terjadi karena kebiasaan menghisap rokok kini berganti dengan makan. Namun dengan merencanakan diit gizi yang sehat dan meningkatkan aktivitas akan membantu kita memecahkan masalah ini. Bahkan, dengan olahraga, tidak hanya masalah berat badan saja yang dapat diatasi, namun stamina dan kapasitas paru yang hilang ketika merokok juga dapat dikembalikan.
Faktor terbesar dari kebiasaan
merokok dipengaruhi oleh faktor sosial atau lingkungan, dimana karakter
seseorang banyak dibentuk oleh lingkungan sekitar, baik dari keluarga,
tetangga, ataupun teman pergaulannya. Bersosialisasi merupakan cara utama pada
anak-anak dan remaja untuk mencari jati diri mereka. Dengan melihat apa yang
dilakukan orang lain dan kadang kala mencoba untuk meniru apa yang dilakukan
orang lain. Hal itu merupakan suatu proses yang terjadi pada remaja untuk
mencari jati diri dan belajar menjalani hidup bersosial.
Jika seseorang yang bukan perokok,
hidup atau berkerja bersama dengan seorang perokok, secara otomatis salah
satunya akan terpengaruh. Mungkin yang bukan perokok mulai mencoba merokok,
mungkin juga sebaliknya yang perokok mengurangi konsumsi rokok. Baik disadari
maupun tidak disadari, adaptasi tersebut dilakukan untuk berusaha menyesuaikan
diri dengan lingkungan dan berusaha untuk diterima di lingkungan sosial-nya.
1.
Pengaruh Orangtua.
Anak-anak muda yang berasal dari
rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan
anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi
perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang
bahagia.
2.
Pengaruh teman.
Semakin banyak remaja merokok maka
semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian
sebaliknya. Diantara remaja perokok mempunyai sekurang-kurangnya satu atau
lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja yang tidak merokok.
3.
Faktor Kepribadian
Orang mencoba untuk merokok karena
alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa,
membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat
prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial.
Apalagi pada diri remaja, yang notabene masih dalam tahap pencarian jati diri.
4.
Pengaruh Iklan
Melihat iklan di media masa dan
elektonik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan
atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku
seperti yang ada dalam iklan tersebut.
5.
Faktor Psikologis
Merokok dapat bermakna untuk
meningkatkan konsentrasi, menghalau rasa kantuk, mengakrabkan suasana sehingga
timbul rasa persaudaraan, juga dapat memberikan kesan modern dan berwibawa,
sehingga bagi individu (remaja) yang sering bergaul dengan orang lain, perilaku
merokok sulit untuk dihindari.
6. murahnya harga jual rokok yang
bias dijangkau oleh para pelajar dengan uang saku yang diberikan oleh orang
tuanya
Dampak merokok bagi remaja
Bahaya rokok bagi kesehatan dari merokok
sendiri sangat berbahaya, karena kandungan untuk berbagai bahan kimia berbahaya
ditemukan dalam asap rokok adalah sama seperti kita menaruh zat-zat berbahaya
dalam tubuh kita. Telah diketahui bahwa penyakit yang disebabkan oleh merokok
termasuk: kanker tenggorokan, kanker paru, kanker perut dan penyakit jantung
koroner, pneumonia, dan gangguan system reproduksi, dan sebagainya.
Kita dapat melakukan pencegahan (upaya
preventif) kepada remaja/pelajar yang belum menyentuh rokok di usia mudanya
dengan beberapa cara, antara lain :
1. Keluarga
terutama orang tua memperhatikan anaknya yang sudah remaja, agar mereka tidak
terjerumus sebagai perokok.
2. Tidak
sering bergaul/berteman akrab dengan perokok, dan mengawsi pergaulan remaja
tersebut.
3. Memberikan
pendidikan sejak dini tentang bahaya rokok
4. Member
penyuuhan terhadapa remaja, bahwa iklan rokok hanya tipu daya pihak promosi
yang tidak bertanggung jawab
5. Menasehati
remaja agar mengetahui gaya hidup yang baik dan buruk
6. Menaikkan
bea cukai rokok, dan orang tua mengawasi penggunaan uang saku anak-anaknya
Upaya
mengatasi rokok
Merokok di
sekolah yang dilakukan siswa kini semakin banyak, itu dikarenakan siswa yang
satu mengajak siswa yang lainnya atau dikarenakan oleh faktor pergaulan. Oleh
karena itu para guru lebih ketat lagi dalam melakukan pengawasan dengan
mengelilingi tempat-tempat yang sering dijadikan tempat merokok.
Selain itu juga melakukan peringatan yang lebih
tegas lagi agar para pelanggar khususnya perokok jera dan tidak melakukan hal
tersebut lagi baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Dalam rangka menekan jumlah angka
perokok pada remaja, dibutuhkan peran orang tua dan juga pemerintah dalam upaya
menekan jumlah perokok aktif di kalangan remaja. Pemerintah harus membuat
kiat-kiat untuk melindungi remaja dari bahaya rokok.Hal yang dapat dilakukan
oleh orang tua adalah untuk tidak memperkenalkan rokok kepada anak-anaknya di
usia dini. Tanpa disadari, sekarang banyak orang tua yang merokok di depan
anaknya sehingga anak mereka meniru hal tersebut. Orang tua sebagai perokok
sebaiknya tidak merokok di depan anak-anak mereka karena hal tersebut dapat
memberikan kemungkinan yang besar bagi anak mereka untuk merokok.Hal lain yang
dapat dilakukan orang tua, terutama orang tua yang bukan perokok aktif adalah
memberikan pendidikan dini mengenai rokok kepada anak-anaknya. Orang tua
diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai rokok dan apa saja bahaya yang
dapat ditimbulkan oleh rokok. Orang tua juga harus memantau lingkungan sekolah
dan lingkungan bermain anak.Sedangkan, hal yang dapat dilakukan pemerintah
adalah membatasi penjualan rokok. Pemerintah diharapkan dapat memantau
penjualan rokok. Rokok tidak seharusnya dijual bebas di pasaran, seperti di
warung-warung kecil. Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan sanksi yang
tegas bagi para penjual rokok yang menjual barang dagangannya kepada anak yang
berusia di bawah umur.Selain itu, pemerintah juga seharusnya bersikap tegas
dengan orang-orang yang merokok di tempat umum. Sekarang memang banyak dijumpai
area-area khusus bagi perokok, namun tetap saja banyak perokok yang tidak
menghiraukannya. Mereka tetap saja merokok di depan khalayak umum tanpa
menyadari bahwa orang-orang di sekelilingnya juga akan mendapat bahaya dari
asap rokok mereka. Hal ini terjadi karena pemerintah tidak memberikan sanksi
yang tegas bagi para merokok yang merokok sembarangan. Pemerintah diharapkan
dapat menindaklanjuti para perokok tersebut karena mereka turut membahayakan
orang lain.Dan yang terakhir, pemerintah seharusnya dapat mengontrol
tayangan-tayangan iklan rokok. Bukan hanya iklan-iklan di media elektronik,
tetapi juga di media cetak. Saat ini iklan rokok di media elektronik memang
sudah dibatasi jam-jamnya. Namun tetap saja iklan-iklan rokok dapat kita temui
dengan mudah di koran, majalah, atau bahkan di baliho-baliho yang tersebar di
jalanan. Hal tersebut membuat siapa saja dapat melihat iklan rokok, termasuk
para remaja. Jadi, diharapkan pemerintah dapat lebih kritis untuk menyeleksi
iklan-iklan rokok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar