Message

Sosiologi dan Antropologi
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Semarang

Facebook
Twitter



Sabtu, 14 Desember 2013

MAKALAH PENGANTAR SOSIOLOGI ; PENYIMPANGAN SOSIAL



MEROKOK BAGI REMAJA


PEMBAHASAN

Masa remaja merupakan masa penghubung atau masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikologis, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita serta lingkungan mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan. Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai.
Pada masa inilah setiap orang sering mengalami yang namanya krisis identitas diri atau tidak mengetahui jati dirinya sendiri, maka sering kali apabila pada masa ini gagal dalam mencarinya bisa berakibat fatal pada masa berikutnya ataupun pada saat masa ini sedang dijalankan. Remaja sering ingin mengetahui dan mencoba hal-hal yang baru tanpa menyaring terlebih dulu mana yang baik dan buruk yang penting tau, dan remaja biasa cenderung belum bisa memutuskan atau masih sulit dalam mengambil keputusan.
Pergaulan remaja pada zaman sekarang ini sudah sampai pada taraf yang dapat mengkhawatirkan. Semua media massa baik elektronik maupun cetak dengan leluasa menampilkan hal-hal yang dapat mengakibatkan kerusakan akhlak generasi muda pada masa sekarang ini. Melakukan intervensi pendidikan terhadap remaja dizaman modern sekarang ini jauh lebih sukar dibandingkan dengan zaman dahulu, ini disebabkan situasi kehidupan dewasa ini sudah semakin kompleks. Pengaruh kompelksitas kehidupan dewasa ini sudah tampak pada berbagai fenomena yang perlu memperolah perhatian pendidikan.
Pelajar sekolah menengah pertama merupakan satu kumpulan remaja yang berada ditahap umur antara 13 hingga19 tahun. Pada tahap umur ini mereka biasanya akan melakukan apa saja dengan tujuan untuk mencoba dan mengikuti sesuatu yang baru. Contohnya merokok. Biasanya, golongan ini sudah memulai belajar merokok ketika dibangku sekolah.
Di masa modern ini, merokok merupakan suatu pemandangan yang sangat tidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, namun dilain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi si perokok sendiri maupun orang – orang disekitarnya.
Berbagai kandungan zat yang terdapat di dalam rokok memberikan dampak negatif bagi tubuh penghisapnya. Beberapa motivasi yang melatarbelakangi seseorang merokok adalah untuk mendapat pengakuan (anticipatory beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs), dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma (permissive beliefs/fasilitative)
Merokok merupakan salah satu masalah yang sulit dipecahkan. Apalagi sudah menjadi masalah nasional, dan bahkan internasional. Hal ini menjadi sulit, karena berkaitan dengan banyak faktor yang saling memicu, sehingga seolah- olah sudah menjadi lingkaran setan. Di tinjau dari segi kesehatan, merokok harus dihentikan karena menyebabkan kanker dan penyumbatan pembuluh darah yang mengakibatkan kematian, oleh karena itu merokok harus dihentikan sebagai usaha pencegahan sedini mungkin. Terlebih diketahui bahwa sebagian besar perokok adalah remaja sehingga perlu adanya pencegahan dini yang dimulai dari pihak sekolah.
Para perokok merasakan nikmatnya merokok begitu nyata, sampai dirasa memberikan rasa menyenangkan dan menyegarkan sehingga setiap harinya harus menyisihkan uang untuk merokok. Kelompok lain, khususnya remaja pria, mereka menganggap bahwa merokok adalah merupakan ciri kejantanan yang membanggakan, sehingga mereka yang tidak merokok malah justru diejek. Padahal mereka sadar bahwa merokok dapat membahayakan kesehatan bahkan menimbulkan banyak penyakit serius.
Hal ini sejalan dengan kegiatan merokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya dilakukan didepan orang lain, terutama dilakukan di depan kelompoknya karena mereka sangat tertarik kepada kelompok sebayanya atau dengan kata lain terikat dengan kelompoknya.
Tidak dapat dinafikan bahwa merokok menuruti pendapat penghisabnya memberi faedah kepada  mereka dimana ia akan memberikan ketenangan kepada perokok dalam tempo masa tertentu. Selain itu ada yang memiliki anggapan bahwa merokok dapat menghilangkan rasa mengantuk dan penat baik saat melakukan kerja dan sebagainya. Namun begitu, terdapat kesan buruk yang diperoleh perokok seperti tertimpa berbagai penyakit berbahaya bagi kesehatan serta dapat dikatakan membuang uang dengan sia-sia.
Sebenarnya pelajar yang merokok bukannya tidak mengetahui kesan buruk yang akan dialami oleh mereka tetapi disebabkan ketagihan serta hanya melihat kepada kebaikan sesaatnya saja maka mereka tidak memikirkan langsung kesan buruk yang akan membahayakan diri mereka sendiri serta orang lain. Jika dilihat dalam konteks pelajar disekolah, perbuatan merokok ini banyak terkait erat dengan sikap disiplin, tingkah laku, kesehatan dan lain sebagainya. Memandang para pelajar atau remaja sekolah merupakan generasi penerus bangsa yang akan menggantikan kepemimpinan bangsa serta kemakmuran negara, maka mereka perlu menghindarkan diri dari perbuatan dan kebiasaan negatif tersebut.
Mulai sebelum umur 18 tahuDi Indonesia, walaupun belum ada data pasti tentang merokok pada remaja, diperkirakan angka kejadiannya tidak jauh berbeda dengan kondisi di negara lain. Namun yang pasti, merokok telah menjadi semacam “trademark” bagi seorang remaja laki-laki untuk menunjukkan maskulinitasnya. Remaja yang tidak merokok dianggap tidak gaul, tidak modern, dan kurang luwes dalam pergaulan. Yang memprihatinkan, sekarang ini tidak sedikit remaja perempuan yang juga memiliki kebiasaan merokok. Walaupun jumlahnya kecil dari remaja laki-laki, namun menilik akibat bagi kesehatannya termasuk keturunannya kelak, kebiasaan yang negatif ini perlu diwaspadai.
Remaja Rentan Terhadap Perilaku Merokok
Pada umumnya remaja memiiki rasa ingin tahu yang tinggi (high curiosity). Karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi remaja cenderung ingin berpetualang menjelajah segala sesuatu dan mencoba segala sesuatu yang belum pernah dialaminya. Selain itu didorong juga oleh keinginan seperti orang dewasa, menyebabkan remaja ingin mencoba melakukan apa yang sering dilakukan oleh orang dewasa. Akibatnya tidak jarang secara sembunyi-sembunyi remaja pria mencoba merokok karena sering meihat orang dewasa melakukannya. Seolah-olah dalam hati kecilnya berkata bahwa remaja ingin membuktikan bahwa sebenarnya dirinya mampu berbuat seperti yang dilakukan orang dewasa. Seringkali remaja melakukan perbuatan-perbuatan menurut normanya sendiri karena terlalu banyak menyaksikan ketidakkonsistenan di masyarakat yang dilakukan oleh orang dewasa atau orang tua antara apa-apa yang sering dikatakan dalam berbagai forum dengan kenyataan nyata dilapangan. Kata-kata moral didengungkan dimana-mana tetapi kemaksiatan juga disaksikan dimana-mana oleh remaja.
Merokok menjadi sebuah cara bagi remaja agar mereka tampak bebas dan dewasa saat mereka menyesuaikan diri dengan teman-teman sebayanya yang merokok. Istirahat/santai dan kesenangan, tekanan-tekanan teman sebaya, penampilan diri, sifat ingin tahu, stress, kebosanan, ingin kelihatan gagah dan sifat suka menentang, merupakan hal-hal yang dapat mengkontribusi mualinya merokok pada anak remaja. Sedangkan faktor lain yang mempengaruhi adalah rasa rendah diri, hubungan antar perseorangan yang jelek, kurang mampu mengatasi stress, putus sekolah, sosial ekonomi yang rendah, tingkat pendidikan orangtua yang rendah, serta tahun-tahun transisi antara sekolah dasar dan sekolah menengah (usia 11-16 tahun). Merokok sering dihubungkan dengan remaja yang memiliki nilai di sekolah yang jelek, aspirasi yang rendah, penggunaan alkohol serta obat-obatan lainnya, absen sekolah, kemungkinan putus sekolah, rendah diri, suka melawan, dan pengetahuan tentang bahaya merokok yang rendah.
  • Awal individu mengenal rokok adalah lewat observasi mereka pada perilaku merokok orang tua yang menimbulkan rasa penasaran dan terdorong untuk mencoba merokok. Setelah itu penayangan iklan rokok pada televisi terutama yang menampilkan model-model anak muda, semakin membuat individu tertarik untuk mencoba rokok dan meniru model dalam iklan rokok tersebut.
  • Kemudian masalah-masalah yang dialami oleh individu seperti masalah keluarga, masalah sekolah, dan masalah-masalah lainnya semakin membuat individu semakin terdorong untuk mulai merokok.
  • Penyebab lain munculnya kebiasaan merokok remaja disebabkan karena mereka ingin mencoba rokok itu karena mereka melihat orang yang merokok kelihatan nikmat dan mereka merasa penasaran, selain itu juga mereka ingin mencari pergaulan dan terpengaruh oleh temannya sehingga ia merokok.Tujuan utama bagi remaja untuk merokok yakni untuk mencari perhatian dari orang banyak. 
  • Dengan merokok terlihat macho/sexy. Merokok dapat menimbulkan kulit keriput dan gigi kuning. Merokok juga berkontribusi pada osteoporosis atau pengeroposan tulang, merokok dapat menyebabkan impotensi.
  • Berhenti merokok bisa membuat gemuk.Bertambanya berat badan banyak dialami orang yang mencoba berhenti merokok. Hal ini terjadi karena kebiasaan menghisap rokok kini berganti dengan makan. Namun dengan merencanakan diit gizi yang sehat dan meningkatkan aktivitas akan membantu kita memecahkan masalah ini. Bahkan, dengan olahraga, tidak hanya masalah berat badan saja yang dapat diatasi, namun stamina dan kapasitas paru yang hilang ketika merokok juga dapat dikembalikan.
Faktor terbesar dari kebiasaan merokok dipengaruhi oleh faktor sosial atau lingkungan, dimana karakter seseorang banyak dibentuk oleh lingkungan sekitar, baik dari keluarga, tetangga, ataupun teman pergaulannya. Bersosialisasi merupakan cara utama pada anak-anak dan remaja untuk mencari jati diri mereka. Dengan melihat apa yang dilakukan orang lain dan kadang kala mencoba untuk meniru apa yang dilakukan orang lain. Hal itu merupakan suatu proses yang terjadi pada remaja untuk mencari jati diri dan belajar menjalani hidup bersosial.
Jika seseorang yang bukan perokok, hidup atau berkerja bersama dengan seorang perokok, secara otomatis salah satunya akan terpengaruh. Mungkin yang bukan perokok mulai mencoba merokok, mungkin juga sebaliknya yang perokok mengurangi konsumsi rokok. Baik disadari maupun tidak disadari, adaptasi tersebut dilakukan untuk berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan berusaha untuk diterima di lingkungan sosial-nya.
1. Pengaruh Orangtua.
Anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia.

2. Pengaruh teman.
Semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Diantara remaja perokok mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja yang tidak merokok.

3. Faktor Kepribadian
Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Apalagi pada diri remaja, yang notabene masih dalam tahap pencarian jati diri.

4. Pengaruh Iklan
Melihat iklan di media masa dan elektonik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut.

5. Faktor Psikologis
Merokok dapat bermakna untuk meningkatkan konsentrasi, menghalau rasa kantuk, mengakrabkan suasana sehingga timbul rasa persaudaraan, juga dapat memberikan kesan modern dan berwibawa, sehingga bagi individu (remaja) yang sering bergaul dengan orang lain, perilaku merokok sulit untuk dihindari.

6. murahnya harga jual rokok yang bias dijangkau oleh para pelajar dengan uang saku yang diberikan oleh orang tuanya

Dampak merokok bagi remaja
Bahaya rokok bagi kesehatan dari merokok sendiri sangat berbahaya, karena kandungan untuk berbagai bahan kimia berbahaya ditemukan dalam asap rokok adalah sama seperti kita menaruh zat-zat berbahaya dalam tubuh kita. Telah diketahui bahwa penyakit yang disebabkan oleh merokok termasuk: kanker tenggorokan, kanker paru, kanker perut dan penyakit jantung koroner, pneumonia, dan gangguan system reproduksi, dan sebagainya.

Kita dapat melakukan pencegahan (upaya preventif) kepada remaja/pelajar yang belum menyentuh rokok di usia mudanya dengan beberapa cara, antara lain        :
1.      Keluarga terutama orang tua memperhatikan anaknya yang sudah remaja, agar mereka tidak terjerumus sebagai perokok.
2.      Tidak sering bergaul/berteman akrab dengan perokok, dan mengawsi pergaulan remaja tersebut.
3.      Memberikan pendidikan sejak dini tentang bahaya rokok
4.      Member penyuuhan terhadapa remaja, bahwa iklan rokok hanya tipu daya pihak promosi yang tidak bertanggung jawab
5.      Menasehati remaja agar mengetahui gaya hidup yang baik dan buruk
6.      Menaikkan bea cukai rokok, dan orang tua mengawasi penggunaan uang saku anak-anaknya

Upaya mengatasi rokok
Merokok di sekolah yang dilakukan siswa kini semakin banyak, itu dikarenakan siswa yang satu mengajak siswa yang lainnya atau dikarenakan oleh faktor pergaulan. Oleh karena itu para guru lebih ketat lagi dalam melakukan pengawasan dengan mengelilingi tempat-tempat yang sering dijadikan tempat merokok. Selain itu juga melakukan peringatan yang lebih tegas lagi agar para pelanggar khususnya perokok jera dan tidak melakukan hal tersebut lagi baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Dalam rangka menekan jumlah angka perokok pada remaja, dibutuhkan peran orang tua dan juga pemerintah dalam upaya menekan jumlah perokok aktif di kalangan remaja. Pemerintah harus membuat kiat-kiat untuk melindungi remaja dari bahaya rokok.Hal yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah untuk tidak memperkenalkan rokok kepada anak-anaknya di usia dini. Tanpa disadari, sekarang banyak orang tua yang merokok di depan anaknya sehingga anak mereka meniru hal tersebut. Orang tua sebagai perokok sebaiknya tidak merokok di depan anak-anak mereka karena hal tersebut dapat memberikan kemungkinan yang besar bagi anak mereka untuk merokok.Hal lain yang dapat dilakukan orang tua, terutama orang tua yang bukan perokok aktif adalah memberikan pendidikan dini mengenai rokok kepada anak-anaknya. Orang tua diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai rokok dan apa saja bahaya yang dapat ditimbulkan oleh rokok. Orang tua juga harus memantau lingkungan sekolah dan lingkungan bermain anak.Sedangkan, hal yang dapat dilakukan pemerintah adalah membatasi penjualan rokok. Pemerintah diharapkan dapat memantau penjualan rokok. Rokok tidak seharusnya dijual bebas di pasaran, seperti di warung-warung kecil. Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan sanksi yang tegas bagi para penjual rokok yang menjual barang dagangannya kepada anak yang berusia di bawah umur.Selain itu, pemerintah juga seharusnya bersikap tegas dengan orang-orang yang merokok di tempat umum. Sekarang memang banyak dijumpai area-area khusus bagi perokok, namun tetap saja banyak perokok yang tidak menghiraukannya. Mereka tetap saja merokok di depan khalayak umum tanpa menyadari bahwa orang-orang di sekelilingnya juga akan mendapat bahaya dari asap rokok mereka. Hal ini terjadi karena pemerintah tidak memberikan sanksi yang tegas bagi para merokok yang merokok sembarangan. Pemerintah diharapkan dapat menindaklanjuti para perokok tersebut karena mereka turut membahayakan orang lain.Dan yang terakhir, pemerintah seharusnya dapat mengontrol tayangan-tayangan iklan rokok. Bukan hanya iklan-iklan di media elektronik, tetapi juga di media cetak. Saat ini iklan rokok di media elektronik memang sudah dibatasi jam-jamnya. Namun tetap saja iklan-iklan rokok dapat kita temui dengan mudah di koran, majalah, atau bahkan di baliho-baliho yang tersebar di jalanan. Hal tersebut membuat siapa saja dapat melihat iklan rokok, termasuk para remaja. Jadi, diharapkan pemerintah dapat lebih kritis untuk menyeleksi iklan-iklan rokok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar