Message

Sosiologi dan Antropologi
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Semarang

Facebook
Twitter



Selasa, 01 Juli 2014

KEBUDAYAAN MINAHASA


 IDENTIFIKASI
Orang Minahasa adalah suatu suku bangsa yang mendiami suatu daerah pada bagan timur-laut jazirah Sulawesi Utara. Dalam ucapan umum orang Minahasa menyebut diri mereka orang Manado atau Touwenang (orang wenang), orang Minahasa, atau pula kawanua. Penduduk Minahasa dibagi dalam delapan kelompok subetnik, yaitu (a) Tounsea, (b) Toumbulu, (c) Tountemboan, (d) Toulour, (e) Tounsawang, (f) Pusan, (g) Ponosakan, dan  (h) Bantik. Wilayah subetnik ini terbagi tiga wilayah administrasi perintahahan, yaitu Kabupaten Minahasa, Kota Madya Manado, dan Kota Madya Bitung. Malayu Manado adalah bahasa umum yang digunakan dalam komunikasi antara orang-orang dari subetnik Minahasa atau dijadikan sebagai bahasa ibu.
EKONOMI
Ekonomi pedesaan di Minahasa mempunyai bentuk tersendiri yang menunjukkan adanya perbedaan dengan wilayah lain, terutama dari segi sosiobudaya. Berbagai sarana, prasarana, dan pranata ekonomi di Minahasa telah mengalami perkembangan. Berbagai pabrik, pertokoan yang menjual barang-barang mewah maupun kebutuhan sehari-sehari, kegiatan-kegiatan perdagangan ekspor dan impor antar pulau maupun lokal, dan sebagainya, tergolong kegiatan ekonomi modern, yang menunjukkan gejala perkembangan. Kebutuhan masyarakat akan kebutuhan listrik dapat dipenuhi dengan adanya PLTA di sungai Tondano dan di air terjun di Tonsea Lama. Dalam sektor pertanian, berkembangnya pertanian rakyat  tanaman-tanaman industry, terutama, kelapa, cengkeh, kopi, pala. Persawahan menunjukkan pula adanya gejala perkembangan dalam peningkatan produksi padi. Perladangan menetap umumnya di Minahasa adalah perladangan jagung, petani juga menanam jenis sayur, bumbu masakan, dan buah-buahan.
KEKERABATAN
Dalam hal pembatasan jodoh dalam perkawinan, ada adat eksogami yang mewajibkan orang kawin di luar famili atau kelompok kekerabatan mereka. Biasanya sesudah pernikahan,, pengantin baru tinggal menurut aturan neolokal pada tempat kediaman baru dan tidak mengelompok di sekitar kediaman kerabat. Akan tetapi adat ini tidak lagi di haruskan. Rumah tangga baru (sanga awu, satu dapur) dapat tinggal dalam lingkungan kekerabatan mereka setelah mereka memperoleh rumah sendiri. Bentuk rumah tangga pada orang Minahasa dapat dibagi menjadi: 1. Terdiri dari hanya satu keluarga batih tetapi dapat pula lebih. Dalam hal ini anak tiri dan anak angkat dapat dianggap sebagai anggota kerabat penuh dalam keluarga batih. 2. Seperti yang dilukiskan oleh Padtbrugge yaitu rumah tangga family besar yang didiami oleh 6 sampai 9 keluarga batih, dimana masing-masing sebagai rumah tangga tersendiri karena masing-masing keluarga batih itu memiliki dapurnya sendiri. Dasar perwujudan keluarga batih orang Minahasa melalui adat perkawinan yang endogami. Batas-batas dari hubungan kekerabatan yang terdapat pada orang Minahasa ditentukan oleh prinsip keturunan bilateral dimana hubungan kekerabatan ditentukan berdasarkan garis keturunan ayah dan ibu. Akan tetapi, bentuk adat menetap sesudah menikah yang utrolokal saat ini sudah tidak ada lagi. Kelompok kekerabatan yang penting yang terdapat sekarang ini dengan prinsip keturunan tersebut disebut taranak, suatu kelompok kekerabatan yang dalam Antropologi sering disebut dengan kindred.
SOLIDARITAS DAN KERUKUNAN
Dalam mengahadapi hal-hal yang penting seperti kematian dengan serangkaian upacara perkabungan dan penghiburan, perkawinan dan perayaan-perayaan lainnya, serta dalam mengerjakan berbagai pekerjaan pertanian dan kepentingan rumah tangga maupun komunitas tampak adanya gejala solidaritas berupa bantu-membantu dan kerja sama terutama didasarkan pada prinsip resiprositas. Kegiatan seperti ini disebut mapalus. Bantuan yang diberikan dalam suatu kegiatan dapat berupa tenaga, barang-barang atau uang bersamaan dengan bentuk penghormatan dan penghargaan, selalu harus disadari dan diberikan balasannya. Seseorang yang melalaikan hal tersebut dianggap sebagai orang yang “tidak baik” dan apabila orang tersebut membutuhkan bantuan maka orang-orang tidak mau atau membantu dengan setengah hati. Gejala solidaritas ini terlihat dalam kalangan kerabat, sekampung atau diluar Minahasa. Variasi mapulus sebagai suatu pranata sosial tradisional yamg penting adalah sangat besar. Kelompok mapulus dapat dibentuk berdasarkan pada kepentingan bersama oleh sejumlah individu yang bersedia bekerja sama atas dasar prinsip resiprositas yang dalam pelaksanaannya terorganisasi sebagai kegiatan dalam bentuk perkumpulan. Kalau dahulu pranata mapulus banyak ditunjukkan pada saling bantu-membantu dalam pekerjaan pertanian dari suatu kelompok yang berjumlah sekitar 20 orang, dengan prinsip timbal balik (ma’ando) maka sekarang bentuk variasi seperti itu disebut juga mapulus. Mapulus dalam arti yang umum seperti yang terdapat dahulu dapat disebutkan sebagai suatu bentuk kerja sama dari sejumlah orang sekampung dalam satu kelompok yang relatif kecil yang mempunyai kepentingan yang sama dan dipenuhi secara bergiliran atas dasar derajat yang sama, yang diatur oleh suatu sistem adat yang menjamin kelancaran dan tercapainya kepentingan anggota yang bersangkutan. Setiap kelompok mapulus dipimpin oleh seorang ketua yang disebut tu’a im palus. Suatu kesadaran akan kesatuan tempat asal terwujud dalm bentuk pengelompokkan social seperti perkumpulan persatuan banyak dijumpai di kota Manado maupun di kota lain di luar Minahasa. Perkumpulan seasal itu disebut “kerukunan”. Kerikunan yang telah mencakup wilayah kecamatan dulu disebut pakasa’an yang artinya wilayah kesatuan adat yang sama dengan apa yang dahulu juga disebut walak yang kemudian diganti menjadi wilayah administrasi yang disebut distrik oleh Belanda. Terutama sejak tahun 1967 sudah berkembang perkumpulan dari orang yang se-pakasa”an seperti pakasa’an Bantik, Tomohon, Kakas dll. Namun, perkumpulan pakasa’an ini tidak lagi mendasarkan kesatuan sosial mereka menurut wilayah pakasa’an atau distrik dahulu.
RELIGI PRIBUMI
Orang Minahasa memiliki kepercayaan yang berbeda-beda, unsur-unsur kepercayaan tersebut merupakan peninggalan sistem religi jaman dahulu sebelum berkembangnya agama Kristen. Namun, sekarang secara resmi  telah memeluk agama-agama Protestan, Katolik, maupun Islam. Dalam konteks perubahan sosiobudaya unsur-unsur ini telah mengalami perubahan, penyesuaian makna, bahkan penurunan dalam intensitas kepercayaan serta kuantitas penganut, ataupun pengintegrasian dengan simbol-simbol dan makna-makna baru. Setidaknya unsur-unsur ini mencakup: konsep-konsep dunia gaib, makhluk dan kekuatan adikodrati (yang dianggap “baik” dan “jahat” serta manipulasinya, dewa tertinggi, jiwa manusia, benda berkekuatan gaib, tempat keramat, orang berkekuatan gaib, dan dunia akhirat).
Unsur-unsur religi pribumi terlihat dalam beberapa upacara adat, seperti masa hamil, kelahiran, perkawinan, kematian, maupun dalam bentuk pemberian kekuatan gaib (sakti). Tampak juga sebagai wujud kedukunan (sistem medis makatana). Orang Minahasa menganggap dunia gaib sekitar manusia didiami oleh roh-roh leluhur yang baik maupun jahat, hantu, dan kekuatan-kekuatan gaib lainnya. Mereka mengadakan hubungan dengan makhluk-makhluk halus tersebut bertujuan supaya hidup mereka tidak diganggu, sebaliknya dapat dibantu dan dilindungi, dengan mengembangkan suatu kompleks sistem upacara pemujaan yang dulu dikenal sebagai ne’empungan, atau ma’ambo, masambo (Malonda 1952: 35-36).
Sistem kepercayaan orang Minahasa dahulu mengenal banyak dewa. Dewa oleh penduduk disebut empung atau juga opo, untuk dewa tertinggi disebut Opo Wailan Wangko, sedangkan dewa yang lebih penting sesudah dewa tertinggi adalah Karema. Opo Wailan Wangko dianggap pencipta seluruh alam dan dunia beserta segala isinya, sedangkan Karema yang mewujudkan diri sebagai manusia adalah sebagai penunjuk jalan bagi Lumimuut (seorang wanita sebagai manusia pertama), dianggap pula sebagai pembawa adat khususnya cara-cara pertanian, juga sebagai cultural hero (dewa pembawa adat). Roh leluhur juga disebut opo, atau sering disebut dotu, yaitu seseorang yang masa hidupnya adalah seseorang yang dianggap sakti dan juga sebagai pahlawan.
Orang Minahasa mempunyai konsepsi bahwa jiwa yang dianggap sebagai kekuatan yang ada dalam tubuh manusia yang menyebabkan adanya hidup, rupanya mempunyai konsepsi yang sama dengan jiwa sesudah meninggalkan tubuh karena mati (roh). Konsepsi ini disebut katotouan. Unsur kejiwaan dalam hidup manusia ialah: gegenang (ingatan), pemendeman (perasaan), dan keketer (kekuatan). Gegenang adalah unsur yang utama dalam jiwa. Mereka beranggapan bahwa roh-roh bertempat tinggal di gunung-gunung, mata-mata air, dan pohon-pohon besar.
Sekarang sesuai dengan aturan-aturan agama Kristen, konsepsi dunia akhirat ialah sorga bagi yang selamat, dan naraka bagi yang berdosa dan yang tidak percaya. Upacara keagamaan pribumi biasanya dilakukan pada malam hari di rumah tona’as atau di rumah orang lain. Juga dapat dilakukan pada tempat lain yang dianggap keramat, seperti pada kuburan opo-opo, batu-batu besar, dan di bawah pohon besar. Pada saat tertentu yang penting upacara dapat  dilakukan di Watu Pinabetengan, yaitu tempat dimana secar mitologis adalah yang paling keramat di Minahasa (di dekat kampung Pinabetengan). Upacara tersebut dilaksanakan pada saat-saat tertentu, misalnya malam bulan purnama di mana benda-benda yang sudah diberikan harus diasapi (difufu) dengan membakar kemenyan.
Perubahan makna Opo Wailan Wangko sebagai konsep pribumi dewa tertinggi menjadi tuhan Allah telah lama dilakukan semenjak Kristen menjadi agama umum dalam masyarakat umum.
ORIENTASI KOGNITIF DAN MASALAH KEMAJUAN
            Setiap sistem budaya terdapat komponen-komponen kognitif pengetahuan kepercayaan (keagamaan maupun nonkeagamaan) yang antara lain berwujud sebagai premis-premis moral dan nilai yang membentuk dan mengatur perilaku anggota-anggota masyarakat yang bersangkutan. Premis-premis ini dapat dijadikan patokan dalam melihat suatu tindakan termasuk penyimpangan atau tidak.
Hakikat Individu dalam Kesatuan Masyarakat. “si tou timou tumou tou”, merupakan konsepsi dari Sam Ratulangi, yang artinya adalah seorang manusia menjadi manusia dalam peranannya menghidupkan manusia lain. konsepsi ini diberi tafsir oleh Tilaar dengan mengemukakan bahwa peranan seseorang (tou) ialah “menjadi manusia”, manusia adalah being bukan given, serta mempunyai potensi untuk berkembang (timou), namun ia bertanggungjawab untuk menghidupkan (tumou) orang lain. manusia harus dapat mengembangkan potensi dan kualitasnya untuk dapat mempunyai arti atau peranan dalam masyarakat. Inilah akar motivasi maju dari orag Minahasa (Tillar 1985: 12).
Seseorang (pria atau wanita) yang berhasil memperoleh kedudukan yang lebih tinggi daripada orang lain adalah merupakan hasil usahanya, prestasinya, bukan karena keturunan adalah gejala umum di Minahasa sejak masa penjajahan, bahwa orang tua dari pejabat-pejabat terpandang justru tergolong rakyat biasa atau pegawai bawahan. Selain itu, premis egalitarianisme tersebut menunjukkan pula sisi lainnya, yaitu asas resiprositas yang berwujud gagasan-gagasan persatuan (maesa-esa’an), ikatan bathin (magenang-genangan, mailek-iekan), dan kerja sama (masawang-sawangan). Gagsan ini merupakan usaha yang secara konkrit dapat dilihat pada tingkat kelompok kekerabatan pada masyarakat pedesaan.
Persepsi waktu dalam Hidup. Bagi orang Minahasa, makna kehiduan masa kini dan masa depan adalah sama penting. Kehidupan “masa kini” diartikan sebagai suatu fase kehidupan seseorang yang tidak terlepas dari peranannya dalam melakukan pekerjaan mata pencaharian hidup tertentu dalam suatu persepsi waktu tertentu. Sebagian dari persepsi waktu ini adalah “masa kemudian”, waktu yang akan datang, selama pekerjaan itu, yang sudah dijalankan sejak saat tertentu pada waktu lampau, akan terus dilaksanakan. Suatu berkat (keuntungan berdagang, panen, dll) merupaka hasil yang tidak lepas dari upaya dan perilaku yang bersangkutan pada masa lalu.  Orientasi masa depan yang jelas adalah berhubungan dengan persepsi orang-oorang mengenai pendidikan . main tinggi pendidikan makin mudah orang mendapat kedudukan.
Persepsi Kerja dan Hidup. Di Minahasa sangat terpengaruh oleh premis budaya petani bahwa orang hidup untuk kerja, dan ini harus dilakukan sunguh supaya berhasil (mainakut). Hasil kerja merupakan dasar untuk hidu lebih lanjut, erja harus disertai dengan do’a agara mendapat berkat Tuhan. Orang yang berhasil, disertai dengan kepribadian yang baik, dianggap memilii pula “manfaat sosial”. Prestasinya dianggap mengangkat nama kelompok kekerabatan     yang bersangkutan. Dihubungkan dengan hakikat hidup manusia, bekerja dan berprestasi tetapi dalam bimbingan, kuasa dan berkat Tuhan, merupakan kewajiban yang mengisi hidup di dunia. Hidup adalah berkat, bukan penderitaan, tetapi bukan milik orang-orang malas dan orang-orang yang menolak kewajiban-kewajiban untuk Tomou tou. Dengan kata lain, Hidup adalah tanggung jawab yang seharusnya berwujud usaha pengembangan pribadi (“Aku”), “Kami”, dan “Kita”.

Pustaka            :           Manusia dan Kebudayaan di Indonesia

Sabtu, 26 April 2014

Field Note Sederhana

Kajian Lapangan Masyarakat dan Kebudayaan suku Tengger, Bromo 


Senin, 31 Maret 2014
Siang hari yang cukup panas, sekitar jam 10.00 dengan membawa tas jinjing yang cukup besar dan menggendong tas ransel, saya berangkat ke kampus untuk berkumpul dengan rombongan yang akan melakukan kajian lapangan masyarakat dan kebudayaan pada suku Tengger di Bromo, Jawa Timur. Di tempat parkir C7 semua rombongan berkumpul, kami dikumpulkan sesuai kelompok observasi nantinya. Sebelum kami berangkat dibagikan label yang berisi nama kami untuk digantungkan pada tas yang akan ditaruh pada bagasi. Sebenarnya jadwal keberangkatan kami pukul 12.00, tetapi kami butuh persiapan dan pembekalan untuk mematangkan kepergian kami ke luar provinsi agar tidak ada yang tertinggal. Pukul 12.00 bus yang akan mengantarkan kami ke Bromo akhirnya datang, kami pun bersiap-siap memasukkan barang bawaan kami ke dalam bus. Setelah persiapan selesai, kamipun berangkat pukul 13.00 dari kampus UNNES menuju Bromo.
Selasa, 1 April 2014
Perjalanan panjang yang memakan waktu 12-13 jam di perjalanan, akhirnya kami sampai di pemberhentian pertama pukul 02.00, yaitu di terminal Sukapura. Disinilah kami harus berpindah kendaraan, menggunakan mobil jeep agar dapat sampai ke pananjakan 1 yang menjadi tujuan pertama saat kami tiba di Bromo untuk melihat sunrise. Sekitar satu jam perjalanan untuk sampai ke pananjakan 1. Kata pak Handoyo, sopir jeep yang mengantarkan saya dan teman-teman, suhu di pananjakan waktu itu mencapai 8 derajat celcius, sehingga saya harus memakai atribut lengkap untuk menghangatkan tubuh, jaket tebal, kaos tangan, tutup kepala, bahkan saya sampai menyewa jaket gunung karena tidak tahan dengan dinginnya udara disana, mengingat kondisi tubuh saya yang waktu itu sedang sakit flu. Pak Handoyo adalah penduduk asli Tengger, seorang petani kentang yang juga bekerja dengan menggunakan mobil jeepnya untuk mengantarkan wisatawan. Sambil menikmati perjalan yang waktu itu masih gelap dan semilir dinginnya angin menyusup dari sela-sela jendela mobil, saya dan kelima teman saya mengobrol dengan Pak Handoyo. Beliau sangat welcome, baik, dan humoris. Sedikit banyak saya memperoleh informasi mengenai masyarakat Tengger dari Pak Handoyo tentang perekonomian disana, sesuai dengan topic yang saya dapatkan dalam observasi. Pada masyarakat Tengger sendiri, mereka bekerja sebagai petani, menggarap lahan pertanian yang ditanami  kentang, kubis, cabai, ada juga jamur, dan itu menjadi komoditas unggulan di Tengger itu sendiri. Selain bertani, masyarakat Tengger yang mempunyai mobil Jeep memanfaatkannya untuk memperoleh pendapatan, dengan menggunakan mobil jeep untuk mengantar wisatawan berwisata di Bromo. Para sopir jeep ini tergabung dalam paguyuban jeep club, yang di Bromo sendiri terdapat tiga paguyuban. Pak Handoyo bergabung dengan paguyuban Sumber Makmur bersama 24 mobil jeep lainnya yang mengantarkan romobongan kami. Selain itu, masyarakat yang mempunyai kuda, menggunakan kudanya untuk disewakan kepada wisatawan di lautan pasir, sebagai pekerjaan sampingan ketika mereka tidak pergi bertani. Pendapatan yang dihasilkan dari pekerjaan keduanya bisa dikatakan besar, wisatawan harus membayar sekitar Rp. 400.000,00 untuk dapat diantarkan menggunakan mobil jeep yang berisi 6 orang penumpang. Sedangkan penyewaan kuda, mencapai Rp. 250.000,00 untuk wisatawan asing dan Rp. 150.000,00 untuk wisatawan domestik, pastinya masih ada tawar menawar antara penyedia jasa dan pengguna jasa tersebut. Setelah berbincang-bincang cukup lama, sampailah kami di pananjakan 1. Pananjakan ini adalah sebuah gardu pandang tertinggi dibandingkan dengan 2 gardu pandang lainnya dimana kami dapat melihat pemandangan dan matahari terbit dari atas sana, dari sini kami juga dapat melihat kawah Bromo.
Sekitar pukul 05.30 saya beserta rombongan turun menuju lautan pasir yang berdekatan dengan kawah Bromo, dalam perjalanan saya dan kelima teman saya berhenti ditengah jalan, dan pak Handoyo memetikkan bunga edelweiss yang tumbuh di tebing-tebing untuk kami. Setelah itu, kami menuju lautan pasir. Disana cukup ramai, berjejer puluhan mobil jeep dan kuda-kuda yang siap mengantarkan kami sampai dibawah tangga naik ke kawah Bromo. Saya dan teman-teman memilih untuk berjalan kaki sembari menikmati sejuknya udara dan berfoto ria dengan background pemandangan yang cantik, lautan pasir yang berada di daerah tinggi dikelilingi bukit-bukit tinggi. Tapi untuk kembali ke lautan pasir setelah naik melihat kawah Bromo, saya dan kelima teman saya memutuskan untuk menunggangi kuda karena kami sudah merasa kelelahan untuk berjalan jauh. Awalnya para penyewa kua menawarkan harga Rp. 75.000,00 untuk mengantarkan kami kembali ke pangkalan jeep-jeep, namun setelah ditawar, akhirnya dengan mengeluarkan uang Rp. 25.000,00 kami bisa menunggangi kuda tanpa kelelahan berjalan kaki sampai ke mobil jeep milik pak Handoyo. Pak Sutikno, pemilik kuda yang saya tunggangi, menuntun kuda yang saya perkirakan satu kilometer jauhnya sampai ke pangkalan jeep, melakukan pekerjaannya setiap hari sampai jam 10.00, penumpang yang didapatpun tak seberapa, hanya 1 atau 2 orang, jika sedang ramai mencapai 8 orang. Sebelum turun dari kuda, saya sempatkan untuk mengambil gambar sebagai kenang-kenangan. Di lautan pasir ini saya dan kelima teman saya diperkenalkan dengan keponakan pak Handoyo yang juga sebagai sopir jeep, namanya mas Agung. Dia beberapa tahun lebih tua dari kami, namun dia tidak melanjutkan pendidikan dan memilih membantu pekerjaan orang tuanya. Tidak terlalu lama, saya dan kelima teman saya masuk ke dalam jeep dan melanjutkan perjalanan ke desa Ngadas yang menjadi lokasi observasi kami juga tempat menginap malam itu. Pak Handoyo yang sangat baik, mengajak kami ke tempat wisata disebelah lautan pasir, yaitu di pasir berbisik. Padahal teman-teman rombongan saya tidak ada yang pergi kesana, karena memang tidak diagendakan. Tetapi kebaikan pak Handoyo yang ingin membuat kami bahagia berwisata ke Bromo, kami menyempatkan ke pasir berbisik sebentar sekedar untuk berfoto-foto, setelah itu kami menuju ke desa Ngadas.
Pukul 08.45 kami sampai di balai desa Ngadas, disinilah kami berpisah dengan pak Handoyo dan mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan beliau dalam mengantarkan kami. Setelah makan pagi, kami diminta untuk segera mencari tempat menginap yang telah disediakan. Dalam satu rumah (homestay), saya tinggal bersama tujuh teman saya, homestay kami berada di desa wonokerto, desa sebelah desa Ngadas. Kami diberi waktu untuk istirahat sampai pukul 10.20 dan kegiatan selanjutnya adalah sarasehan bersama kepala desa dan tokoh adat desa Ngadas. Di homestay, kami manfaatkan untuk istirahat sebentar dan membersihkan diri setelah sehari semalam kami berada di perjalanan. Aktivitas yang cukup melelahkan, apalagi kegiatan inti kami belum terlaksana. Setelah menunggu cukup lama, pukul 11.40 akhirnya acara sarasehan dimulai dengan tokoh adat ini memakai pakaian adat khas suku tengger tutup kepala seperti ikat kepala dan atasan warna hitam seperti yang dipakai-pakai sebagai pemuka adat pada umumnya,dengan di moderatori bapak Mulyono masyarakat desa setempat, disusul bapak Sumarto sebagai kepala desa Ngadas atau pimpinan di desa Ngadas dan Bapak Sasmito selaku dukun Pandita atau seseorang yang disucikan sekaligus yang melaksanakan upacara-upacara adat dan kenegaraan,untuk menjadi seorang dukun jabatan yang diperoleh tidak turun temurun melainkan melalui proses dan ritual khusus. Upacara mulunen (untuk mengetes dukun apakah dukun mendapat wahyu sakyaradi atau tidak), pada saat upacara kasada di tes siapa yang lancar menghafal mantra,sedangkan pendidikan minimal SMA dengan maksud paling tidak sudah mengetahui filsafat-filsafat tentang tengger. Ada dukun Sepuh dan Legen yaitu sebagai asisten serta dukun Sunat yaitu proses kedewasaan,apabila ingin menjadi dukun harus disunat terlebih dahulu oleh dukun kemudian dilanjutkan proses medis.
Setelah acara sarasehan selesai, sekitar pukul 13.30 kami makan siang bersama dan melaksanakan shalat dzuhur, dilanjutkan dengan kegiatan inti yaitu observasi. Waktu yang sering terulur membuat kegiatan observasi yang dilakukan semakin sore, jam 15.00 saya dan teman-teman kelompok saya mulai melakukan observasi. Sebelumnya kami dibagi menjadi 2 sub kelompok, agar data yang kami peroleh lebih banyak. Saya dengan kedua teman saya mendapatkan dua orang informan, yang pertama panggil saja pak Dayatna, sebenarnya nama aslinya adalah pak Slamet, namun karena saking banyaknya nama Slamet di desa Ngadas, akhirnya penduduk sekitar sering memanggil dengan nama pak Dayatna. Beliau berusia hampir 80 tahun, bekerja sebagai petani bawang dengan lahan kecil di dekat rumahnya. Ketika kami menghampiri, beliau sedang menyirami tanaman bawangnya dan beliau menghentikan pekerjaannya ketika kami mencoba mengajaknya bicara. Beliau menceritakan pasang surutnya pendapatan yang ia peroleh, apalagi tanaman yang ia tanam hanyalah bawang. Menurutnya, dengan menanam bawang tidak banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membelikan obat dan merawat bawang-bawangnya, jadi hasil yang diperoleh bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan penghasilan dari panen bawang itu sudah bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, walaupun harus menunggu hasil panen selama tiga bulan. Terkadang pak Dayatna juga menggarap lahan milik orang lain sambil menunggu hasil panen bawangnya. Beliau pekerja yang tekun meskipun dilihat tubuhnya semakin lemah dan usianya yang sudah tua sebagai seorang yang bekerja di lapangan, tetapi ia giat dan menekuni pekerjaannya sebagai petani bawang. Tak banyak informasi yang kami dapat dari pak Dayatna, akhirnya kami melanjutkan perjalanan di sekitar desa untuk mendapatkan informan selanjutnya. Di tengah perjalanan kami berhenti melihat di samping kiri kami ada sebuah rumah dari pagar kayu yang didalamnya terdapat susun-susun seperti rak tapi besar, ternyata itu adalah ruangan budidaya jamur. Kami tertarik untuk mencari tahu mengapa disini masyarakat juga menanam jamur, di dekat situ ada seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang mencuci, dan kami bertanya kepadanya siapa pemilik budidaya jamur tersebut, katanya pak Joko dan Ibu Suwarmi. Ibu-ibu tadi menunjukkan rumah pak Joko, dan kami mencoba untuk mengunjungi rumah beliau. Waktu itu rumah pak Joko sedang direnovasi, dan di belakang rumah pak Joko sedang membantu tukangnya. Ketika kami mengetuk pintu dan mengucap salam, seorang laki-laki dari dalam rumah membukakan pintu, dialah pak Joko. Disana kami disambut baik, meskipun kami kelihatannya mengganggu namun pak Joko menerima kedatangan kami dengan senang hati, itulah yang terlihat dari  wajah pak Joko. Kami menanyakan beberapa hal mengenai budidaya jamur yang ia jalankan. Katanya, ia menjalankan bisnis budidaya jamur ini sejak terjadi erupsi Bromo pada tahun 2010, karena erupsi tersebut mengakibatkan tanah pertanian menjadi tandus dan diselimuti abu, para petani khawatir jika hasil pertaniannya gagal akibat bencana itu. Para petani berfikir bagaimana jalan alternatifnya agar mereka dapat memperoleh hasil dari bercocok tanam, akhirnya mereka memiliki sebuah terobosan, tanaman yang dapat ditanam di dalam ruangan sehingga tidak terkena abu erupsi tadi, dari situlah para petani disana membudidayakan jamur sampai sekarang ini. Awalnya mereka pikir dengan adanya erupsi Bromo, tanaman pertanian akan mengalami gagal panen, tetapi ternyata tidak. Hasil panen pertanian mereka tetap baik dan hasil budidaya jamur juga baik sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, dalam artian erupsi Bromo tidak merusak hasil pertanian masyarakat pada waktu itu. Tetapi dijelaskan oleh pak Joko, saat ini pemilik budidaya jamur sudah mulai berkurang, karena hasil yang diperoleh tidak mencukupi kebutuhan hidup. Menurut beliau, yang menjadi faktor pendapatan budidaya jamur ini sedikit bukan karena harga jamur yang murah, tetapi hasil dari memanen jamur ini mereka gunakan untuk membayar hutang di bank-bank. Karena pada awalnya untuk memulai budidaya jamur masyarakat meminjam uang di bank. Faktor lainnya adalah pengetahuan masyarakat mengenai usaha dan budidaya jamur yang masih minim, sehingga menimbulkan rasa putus asa ketika budidaya jamur ini mengalami kegagalan. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih melanjutkan usaha budidaya jamur disana.
Malam yang begitu dingin sampai menusuk tulang, kami berkumpul dibalai desa untuk mempresentasikan hasil observasi “mentah” yang kami peroleh di lapangan sore tadi. Tidak banyak yang kami sampaikan, hanya segelintir data namun sudah bisa kami paparkan di depan bapak ibu dosen pembimbing. Teman-teman kelompok lainpun juga begitu, karena memang data yang diminta hanyalah data yang kami dapatkan pada observasi hari pertama ini. Diskusi berlangsung hingga pukul 24.00, mata yang sudah mulai sayu, terlihat wajah-wajah lelah dan mengantuk, tetapi kami berusaha untuk tetap mengikuti kegiatan diskusi ini hingga berakhir. Setelah diskusi selesai, kami langsung kembali ke homestay masing-masing dan beristirahat.
Rabu, 2 April 2014 (observasi hari kedua)
Pukul 05.00 saya dan teman-teman sudah bangun untuk bersiap-siap melakukan observasi pada hari kedua, pukul 07.00 kami sudah keluar dari homestay dengan membawa semua barang bawaan kami karena kami harus check out dan memasukkan barang bawaan kami ke mobil shuttle. Setelah itu kami sarapan pagi dilanjutkan observasi. Kali ini kami diberi waktu sampai pukul 10.00 karena selanjutnya kami akan melanjutkan perjalanan ke Malang untuk wisata. Pagi itu, suasana desa sangat sepi. Masyarakat sudah banyak yang pergi ke ladang, dan yang tidak berladang mereka berada didalam rumah, sehingga desa ini terasa kosong tak berpenghuni. Namun dekat dari situ ada sebuah rame yang kelihatannya sedang memiliki hajat, ramai orang-orang berdatangan. Sambil berjalan-jalan mengamati sekitar kami dan mencari informan yang dapat kami peroleh informasinya, akhirnya saya bersama keempat teman saya mendapatkan seorang informan, tetapi ia bukanlah penduduk asli kaki gunung Bromo. Ia berasal dari Malang, suaminya yang merupakan penduduk asli Tengger. Dilihat suaminya sedang sibuk memperbaiki rumah, saya dan teman-teman berniat mewawancarai ibu tadi. Bu Yati seorang ibu rumah tangga yang mempunyai seorang anak perempuan, tinggal bersama ibu mertua. Terkadang ia bekerja di ladang untuk membantu suaminya, tanaman yang ditanam ialah cabai. Tidak banyak yang kami peroleh dari Bu Yati, dalam konteks ekonomi di desa Ngadas ini dulunya ada program yang dicanangkan oleh PKK dalam pemberdayaan wanita di desa Ngadas, untuk mendapat penghasilan tambahan, ibu-ibu di desa Ngadas ini membuat makanan ringan dari kentang untuk dipasarkan, seperti keripik dan makanan kering lainnya. Namun sudah lama program ini tidak berjalan lagi, entah mengapa masyarakat sudah tidak mau melanjutkan usaha ini padahal bisa membantu dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.00, kami kembali ke balai desa untuk beristirahat, teman-teman kami sudah banyak yang kembali ke balai desa. Sebelum acara pelepasan dan pamitan dengan kepala desa, saya dan rombongan berfoto dengan kelompok kami masing-masing. Setelah bapak kepala desa datang, kami langsung masuk aula balai desa dan berpamitan dengan petinggi di desa Ngadas tersebut. Sekitar pukul 11.00 kami melanjutkan perjalanan ke Malang untuk wisata disana, dan menginap di Hotel untuk semalam.

Senin, 14 April 2014

KPOP : favorit atau fanatik ?

       Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Hyun Bin, Shin Min Ah atau Super Junior, Girls Generation, SNSD, Coba kalian menyebutkan nama-nama tenar ini pada para penggemar K-Pop. Pasti ekspresi heboh mereka akan keluar. Lalu coba kita tanya tentang masing-masing karakter tersebut pada mereka. Bisa dipastikan para penggemar K-Pop akan dengan lancar bagai air mengalir dengan derasnya menceritakan idola-idolanya itu. Mulai dari film yang pernah dimainkan, makanan yang disukai, kekasih, tanggal kelahirannya, warna favoritnya, hingga hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadi lainnya. Hal-hal berbau K-Pop yang sedang marak di tanah air memang membuat sebagian remaja terbius oleh pesona para aktor maupun musisinya. Bahkan sedikit-sedikit mereka terkadang ikut menirukan aksen berbicara, gaya pakaian, maupun bahasa artis idola mereka.
Sebagai orang yang hanya menjadi penikmat wajah tampan dan cantik artis-artis Korea, tentunya saya tetap memiliki apresiasi sendiri bagi teman-teman yang sampai tergila-gila dengan everything about Korea. Contoh yang paling dekat saja, teman kos saya yang bernama yuyun (nama samaran). Ia mahasiswa UNNES jurusan Akuntansi semester 6. Awalnya dia hanya sekedar suka dengan film-film Korea dan lagu-lagu dari boyband maupun girlbandnya. Tapi ternyata virus K-Pop terlanjur menginfeksi dirinya hingga masuk ke pembuluh darah di otaknya. Akhirnya dia jadi makin menggilai dari hari ke hari dengan K-Pop.
Bukan hanya itu, setiap hari dua teman kuliahnya datang ke kost, dan saya sebagai penghuni kost sering menyebutnya “over K-Pop”. Setiap hari mereka punya jadwal khusus menonton film Korea, belajar pun harus ditemani musik-musik Korea, browsing sana sini untuk cari tahu hal-hal yang berbau Korea, sampai-sampai mereka pun punya resolusi untuk pergi melancong ke Korea suatu hari nanti. Lebih parahnya adalah mereka bertiga ini tercatat sebagai mahasiswa Akuntansi. Namun, yang saya lihat ketika Nurul dan dua temannya berada di kost, yang mereka kerjakan hanyalah mendengarkan musik, berjoged, dan menyanyi menirukan gaya penyanyi aslinya sambil melihat video di laptop. Seperti kesibukan rutin yang harus mereka lakukan setiap hariya selepas kuliah.
Saking gilanya mereka pada K-Pop, bahasa Korea pun ikut mereka lahap untuk dipelajari. Mulai dari belajar otodidak melalui teks-teks di film, Apalagi di dinding kamar kostnya rasanya hampir tak muat karena begitu banyaknya tempelan tulisan berbahasa Korea. Secara tak langsung K-Pop membuat mereka ingin tahu, ingin belajar, dan ingin menguasai bahasa Korea.
Teriak-teriak sendiri saat melihat foto terbaru artis k-pop, orang yang terkena virus k-pop sering sekali histeris ketika melihat foto-foto terbaru artis kpop apalagi biasanya tidak hanya itu, mereka juga sering menjadikannya picprofil.
Mendengarkan lagu-lagu kpop sebelum tidur selain melihat poster sebelum tidur, mendengarkan lagu-lagu kpop sebelum tidurpun menjadi ritual yang wajib dilaksanakan. Menjadikan foto idola k-pop di desktop background. Yang dimaksudkan budaya korea disini bukanlah budaya tradisional dari korea akan tetapi lebih mengacu kepada Kpop atau Hallyu yang sedang hangat-hangat nya menjadi bahan pembicaraan khususnya di kalangan remaja di Indonesia.
Efek ini tentunya cukup bagus karena mereka tak hanya menjadi penikmat pasif seperti saya, tetapi juga mau aktif memahami dan mempelajari bahasa Korea. Salut buat mereka para penggemar K-Pop yang tak hanya bisa berteriak-teriak histeris saat melihat idolanya tetapi juga mau menyempatkan diri untuk belajar bahasa Korea dan budaya Korea. Sudah bukan jamannya memang untuk sekedar jadi penikmat pasif. Demam artis maupun film atau musik apapun, sebaiknya kita juga harus jadi penggemar yang cerdas. Tak hanya asal menyerap, tapi juga menyaring ilmunya. Apalagi saat ini untuk mempelajari bahasa asing seperti Korea juga banyak aksesnya.

TEORI NEO EVOLUSI KEBUDAYAAN (Teori Antropologi)

Kerangka-kerangka baru mengenai evolusi kebudayaaan disebut kerangka neo evolusionis. Kerangka-kerangka tersebut antara lain :

1. Kerangka Gordon Chile (Peristiwa Besar dalam Evolusi Kebudayaan)

Awal eksistensi manusia di muka bumi, evolusi kebudayaan didasarkan pada mata pencaharian berburu dan meramu berjalan sangat lambatdalam berates-ratus ribu tahun. Kemudian peristiwa besar terjadi sehingga menyebar dan mempengaruhi kebudayaan di permukaan bumi disebut cultural revolution. Revolution dimaksudkan sebagai peristiwa besar yang telah memberi arah perkembangan dan perubahan total mendasar kepada proses perkembangan kebudayaan manusia. Cultural Revolution di alami oleh tujuh manusia dimuka bumi, adalah Neolithic Revolution yang pada saat itu manusianya secara terpisah telah pandai bercocok tanam sehingga berubah dalam kehidupa masyarakat yang didasarkan pada sistem mata pencaharian food gathering ke food producting, hidupnya mulai menetap, waktu senggang digunakan untuk mengembangkan kerajinan, pertukangan dan kesenian. Perubahan kebudayaan yang sangat besar dengan adanya system pembagian kerja yang lebih terperinci. Kemudian terdapat konsepsi tentang “pekerjaan terpandang” dan “pekerjaan tidak terpandang”, maka timbullah golongan-golongan sosial (pelapisan sosial). Golongan-golongan sosial ada yang melepaskan diri dari pekerjaan petani dan menjadi undagi (tukang), pengrajin, seniman, pedagang, tentara, pendeta . mereka mulai hidup mengelompok di tempat tertentu yang disebut “kota”. Sehingga kebudayaan mereka mulai berubah dan disebut urban revolution. Kemudian disusul revolution in human knowledge yang ditandai telah adanya tulisan, pesatnya pengetahuan manusia yang digunakan untuk perbaikan dan kesejahteraan hidupnya. Namun Childe juga berpendapat bahwa revolusi kaum buruh menyebabkan munculnya masyarakat tanpa kelas karena telah adanya pengaruh difusi dari kebudayaan dan ada yang tidak mendapat pengaruh itu. Dapat disimpulkan menurut Childe, bahwa semua kebudayaan berkembang dari bentuk-bentuk yang sederhana menjadi bentuk-bentuk yang kompleks.

2. Kerangka Leslie White (Konsumsi Energi dalam Evolusi Kebudayaan)

Perkembangan kebudayaan manusia awalnya berlangsung lambat kemudian maju dengan pesat karena manusia dapat menguasai berbagai macam sumber energi yang semakin banyak dan intensif. Kemudian penemuan-penemuan sumber energy yang mencolok itu disebut cultural mutation. Yang pada awalnya manusia hidup dalam kesederhanaan dimana ia hanya mampu mempergunakan tenaga yang keluar dari organismenya sendiri (energy of human organism) dan dalam perkembangannya manusia telah mengenal api , tenaga angin dan air. Ketika manusia menemukan cara-cara untuk menggunakan hewan maka semakin maju dalam tekhnologinya dan mulai mengenal bercocok tanam. Proses evolusi kebudayaan tampak sewaktu menggunakan tenaga hewan. Akhirnya mutasi-mutasi kebudayaan yang terbaru, seperti penemuan cara-cara untuk menguasai energy angin, air, uap, listrik, dan atom, telah dan akan menyebabkan kemajuan sangat pesat dalam proses evolusi kebudayaan. Sehingga kemajuan kebudayaan di ukur secara relatif, mutlak dan eksak dengan merumuskan beberapa energi lain disamping energi manusia secara berasas-guna per kapita per tahun oleh sutau masyarakat atau kebudayaan. Menurut Steward, metode Leslie White untuk mengukur penggunaan energy untuk keperluan hidup manusia tetapi hanya dapat menerangkan mengapa suatu kebudayaan maju dan belum dapat memberi jawaban. Gordon Childe tidak banyak memberi keterangan mengenai perubahan kebudayaan-kebudayaan lain yang berada di luar tempat-tempat terjadinya peristiwa revolusi kebudayaan.

3. Metodologi Analisis Steward ( Evolusi Multilineal)

Steward pada dasarnya berpendirian bahwa tiap proses perkembangan kebudayaan manusia di dunia bersifat khas. Namun terdapat kesejajaran yang tampak dalam kebudayaan universal (primer) mulai dari sistemmata pencahrian hidup, organisasi sosial, dan sistem religi. Dan yang tidak primer seperti teknologi, system pengetahuan, dan kesenian tidak menampakkan evolusi yang sejajar. Metode ekologi budaya Julian Steward dibagi dua yaitu ada perkembangan-perkembangan, ada yang pasif yaitu lingkungan yang merupakan faktor internal. Jadi yang disebut inti kebudayaan yaitu suatu unsur kebudayaan, aspek subsistem yang perkembangan evolusinya sangat dipengaruhi oleh kekuatan alam, baik berupa letak geografis, musim, iklim, SDA, termasuk di dalamnya pola-pola pemukiman. Perkembangan pola pemukiman yang menetap dan berpindah-pindah mengikuti aktifitas ekonomi masyarakat. Dapat disimpulkan secara singkat, bahwa Steward menjelaskan tingkat-tingkat evolusi dalam enam kebudayaan di dunia, yang didasarkan atas bahan prehistori yang konkret, atau multilinear evolution yaitu proses-proses perkembangan yang berjalan lambat dari kebudayaan-kebudayaan yang berlainan dan yang hidup dalam lingkungan yang berbeda-beda, tetapi yang secara garis besar menunjukkan persamaan dalam proses-proses evolusi kebudayaan manusia dalam unsur-unsur primernya, tetapi menunjukkan perbedaan besar dalam unsur-unsur sekundernya.